Langsung ke konten utama

GOGIRL! Weekend Web Story: Beatriz








Beatriz hanya bisa menghela napas. Entah pantas disesalkan atau tidak, ia terpancing perkataan Janny hingga membuatnya terperangkap oleh tatapan mata polos mereka dengan mulut setengah terbuka penuh tanya. 

             Setengah kaku Beatriz berdiri mengibas-kibaskan rok-nya yang tak kotor. Ini pertamakalinya mengahadapi anak-anak, wajar sedikit gugup. Entah bagaimana mengawalinya, matanya tertutup sejenak mengingat kata-kata Bunda. Ia memaksakan seulas senyum.




    

        “Hai semua... namaku Beatriz, artinya membawa kebahagiaan. Aku adalah pembawa kebahagiaan untuk kalian, panggil saja aku, Kak Triz,” ucapnya meyakinkan. Mata anak-anak itu mengerjap-erjap saling berpandangan, hening terasa.


***

Beatriz segera berjongkok merapikan dengan cepat berbagai kertas warna kecil yang berserakan di lantai. Juga buku tulis milik Noi yang ia ambil diam-diam kemarin, ia tertarik karena huruf-huruf abjad itu diberi tanduk bak monster, seolah-olah pemiliknya tak menyukai berbagai abjad, seperti ada yang tak beres. Tadi barang-barangnya berjatuhan gara-gara sibuk mengecek instagram dan beberapa unggahannya di you tube. Kadang ia merasa konyol dengan melakukan hal yang bukan tipe-nya ini.

            Tiba-tiba sepasang kaki berhenti tepat di depannya, perlahan ia alihkan pandangannya pada sosok yang menjulang. Gerakan senyum Beatriz patah-patah menatap lelaki yang hanya menatap buku tulis yang segera dirapikannya.

            “Hai, Fabian...” tapi senyum Beatriz meredup kembali saat lelaki itu berlalu tanpa bereaksi untuk membantu. Dia seringkali begitu. Tapi sudahlah. Tak perlu dipikirkan, lantas Beatriz kembali berlari-lari di sepanjang koridor sekolah. Membuat rambut panjang-nya yang hanya dibuat ikal dan pirang di ujung terpental-pental ke samping.

            Sesampai di pelataran bekas toko kue milik Ayahnya yang sudah disulap menjadi Kelas Belajar gratis, tatapannya tertuju pada gadis kecil yang tengah menekuk lengan di atas kusen jendela sembari menatap datar baling-baling mainan di halaman. Mungkin dialah yang menjadi salah satu alasan untuk tetap melanjutkan misinya ini.

            Ia gadis yang malang. Tulisannya amburadul, tidak bisa mengeja dengan baik, berulang kali belajar namun seperti terpental kembali dari otaknya. Dialah yang paling tertinggal dari pada teman-temannya yang lain. Itulah sebab mengapa ibunya kerap marah padanya.

            “Rasakanlah bagaimana menuliskannya di udara, tariklah garis membentuk huruf A.” Kata Beatriz waktu itu menuntun tangannya mengukir berbagai abjad di udara. Rupanya cara ini membuatnya sedikit tertarik dari pada berurusan degan pensil yang terasa membentuk huruf-huruf tak beraturan dan sulit dipahami.

            “Tapi mana yang harus Noi percaya? Membentuknya seperti yang Noi rasa di udara atau yang terlihat di papan?” Beatriz hanya bisa mengerutkan kening. Bingung. Apa maksudnya? Bagaimana menjelaskannya? Beatriz berdehem sebelum menjawab.

            “Tentu saja yang terukir di papan, yang kita ukir tadi di udara agar kau bisa menghafal dan merasakan setiap lekuk abjad-abjad itu saat menuliskannya di kertas.” Namun Noi tampak semakin bingung. Waktu itu Beatriz mulai kehabisan ide untuk mengatasinya.

            Tiba-tiba baling-baling di dekat jendela berputar cepat saat angin menerpanya kuat. Membuat gadis itu memekik girang. Beatriz menghidupkan kamera ponsel-nya, itu indah untuk diabadikan.

***

                Penjelasan Pak Jon di depan white board hampir saja tak Beatriz dengarkan. Ia memekik geli. Buku tulis milik Noi sempurna menyita perhatiannya. Mentimun berkacamata, bawang bombai yang memiliki bulu mata dan bayi tomat yang mengemut dot di mulutnya. Ini gambar serupa di Kelas Belajar yang lalu. Saat anak-anak yang lain berhambur pulang, tinggal Noi yang masih berdiam dengan gambar yang masih belum terkumpulkan. Beatriz mendekatinya.

            “Kenapa sulit menuliskannya dalam kata-kata?” Beatriz mengangkat kedua alisnya. Gadis kecil itu menyodorkan kertas yang membuat Triz takjub.

            “Hey.. lucu sekali gambarmu. Kau mengusung tema sayur?” Beatriz tersenyum melihat Noi yang tersipu. “ Lihatlah sayur-sayur ini, mereka memiliki mata, kaki dan tangan? Ada wortel bertopi dan cabai yang tengah menari?” Beatriz tertawa senang.

            “Perpaduan warnanya juga bagus, kakak suka.” Gigi Noi tampak tanggal saat ia tersenyum lebar.

            “Noi ingin membuat cerita bergambar, tapi Noi tidak bisa menulis dan membaca.” ucapnya tertunduk. Beatriz menggigit bibir bawahnya mencari kata-kata yang tepat.

            “Semuanya butuh proses, jika kau mau berlatih lebih dibanding teman-temanmu, kau pasti bisa melakukannya.” Noi tersenyum mendengarnya.

            Kembali mengabaikan penjelasan Pak Jon, Beatriz memejamkan mata, mencoba menyelam pada alam imajinasi Noi lewat gambar-gambar yang menggemaskan itu. Ia hanya tersenyum-senyum membayangkan versi ceritanya sendiri dalam imajinasinya. Fabian yang duduk di deretan yang sama di sebelahnya hanya mengkerutkan kening melihatnya. Gadis aneh.

            Saat Beatriz membuka lembar buku Noi perlahan. Senyum tadi sudah terganti dengan alis-alis tertaut. Ada yang baru ia sadari. Selain abjad yang berbentuk monster, beberapa huruf ia tandai dengan pena. Hampir seluruh penjelasan guru tak ia dengarkan karenanya. Kadang Beatriz seperti menerawang. Fabian yang duduk di deretan samping-nya jadi penasaran akibat tingkah gadis itu.








            

Beatriz mengoreksinya teliti dengan pena, ada kesalahan yang berulang-ulang. Noi tidak bisa membedakan d dengan b, n dengan u, m dengan w, seolah-olah huruf-huruf itu terbalik. Sebenarnya masih banyak lagi. Semisal kata yang mirip seperti the sky yang berganti teh sky.
dab yang seharusnya bad  atau  bounts seharusnya donuts.

            Beatriz menghela napas tak mengerti mengapa kesalahan tulisan Noi selalu terulang. Noi selalu berkelah tulisannya menari-nari, dan lihatlah! Nyaris huruf-huruf itu tertukar atau terbalik. Tapi, tiba-tiba guru itu berteriak memanggil Beatriz dan menyodorkan satu pertanyaan terhadapnya, kaget. Dengan spontan ia menjawab.

            “Tulisan yang terbalik-balik dan dilakukan berulang-ulang.” Seisi kelas tertawa medengar jawabanya ketika ditanya oleh Pak Jon tentang defini puisi. Beatriz hanya bisa melebarkan mata sembari menutup mulutnya yang ternganga dengan tangannya.

            “Berkonsentrasilah Triz!” ucap guru itu. Fabian hanya bisa tersenyum, kadang tingkah gadis itu cukup menggelikan. Tatapannya tak terlepas pada buku tulis di tangan Beatriz. Penasaran.
***
                 
             Noi absent akhir-akhir ini, Ibunya melarangnya datang. Katanya, Noi tak akan pernah berubah, sekarangpun tak kujung naik kelas pula. Ditambah lagi Noi lebih menggila menggambar tentang dunia sayur-nya dari pada belajar sejak bergabung di Kelas Belajar. Itu keluhan ibu Noi yang membuat Beatriz cemberut.

             Di sisi lain ada kejadian yang membuat Beatriz tersenyum geli. Seperti mimpi saja melihat Fabian yang dingin tengah terduduk di depannya dengan ekspresi meringis sembari memijat-mijat kakinya. Ternyata sedari tadi ia telah mengendap-endap di pinggir jendela dan membuat seisi kelas keluar ketika ia tersandung pot besar lantas menggelindingkannya hingga berdebam menimpa tanah.

            Sekarang hanya tinggal mereka berdua setelah anak-anak pulang. Entah apa yang membuat Fabian bisa ke Kelas Belajar.

“Tulisan yang terbalik-balik, pandangan yang membohongi seolah-olah huruf bergerak-gerak, sulit mengeja dan menulis disebut Dislexia.” Tiba-tiba ia menyodorkan buku milik Noi. Dan alasan itu sudah menjawab mengapa ia berkunjung sore ini. Triz begitu pelupa. Dan lihatlah! Fabian bicara sedikit bersahabat padanya?

Rasanya mustahil. Fabian tipe lelaki yang tak suka wanita sejenis Janny yang ribet akan penampilan dan memosting hal-hal tak penting di media sosial. Naasnya menurut Fabian, Beatriz termasuk sejenisnya. Cerita itu ia dengar dari temannya yang membuat Beatriz menghentak-hentakkan kaki kesal. Tapi, apa maksudnya, Dislexia?

            “Bagaimana kau bisa mengetahuinya, Dislexia?” Triz memicingkan mata, heran. Fabian beralih menatap buku tulis Noi.
 
            “Karna aku adalah salah satu penderitanya.” Ternyata banyak hal yang belum ia ketahui tentangnya.
***
               
            Maka waktu itu Beatriz kembali berkunjung bersama Fabian meminta Noi kembali. Fabian mengatasinya dengan cepat. Menjelaskan apa yang dialami Noi sebenarnya lewat pengalamannya secara baik-baik. Noi tidaklah bodoh. Hanya saja butuh usaha lebih agar ia sama seperti yang lain. Hingga akhirnya raut Ibu Noi melunak dengan memberikannya kesempatan.

            Beatriz menuruti semua instruksi Fabian, salah satunya mengajari Noi mengukir abjad di atas pasir. Banyak cara yang Fabian bagikan waktu itu bersama Beatriz. Mereka juga memperkenalkan tokoh besar yang juga mengalami dislexia, dua diantarnya adalah Leonardo De Davinci atau Agatha Christy yang membuat Noi sangat tertarik pada  melukis dan menulis. Meskipun lambat, perubahan pada Noi semakin tampak.

            “M-e-n-y-e-n-a-n-g-k-a-n” Noi mengukirnya di udara menyebut huruf demi huruf. Fabian tersenyum antusias.

            “Hey, rupanya kau sudah punya cara sendiri dalam mengejanya” ucap Fabian sembari mengacak-acak rambutnya. Gadis kecil itu menggeleng.

            “Bukan, ini Kak Triz yang mengajari Noi” Fabian menatap Beatriz yang segera berpaling menggigit bibir. Tapi ia pula yang mematahkan pemahaman Noi dengan menyuruhnya tetap mempercayai lekuk abjad di papan. Tapi sukurlah Noi tak mengungkitnya. Ternyata mata juga bisa membohongi. Itu pelajaran penting yang ia dapat.

            Seperti itulah kegiatan baru mereka, setiap sore Fabian selalu meluangkan waktunya untuk berbaur di kelas. Termasuk pulang sedikit lebih sore lagi saat mereka harus membimbing Noi. Dan itu berlangsung berminggu-minggu hingga Noi benar-benar bisa mandiri melakukannya. Hingga akhirnya, cerita bergambar tentang dunia sayur itu telah Noi selesaikan. Meski masih sangat sederhana. Namun itu indah.

            Ia bercerita tentang Ibu dan sayur-sayuran. Imajinasinya mengungkapkan bahwa sayur-sayur itu bisa menjadi teman yang lucu dan menyenangkan bagi Ibunya hingga tak kesepian di dapur. Itu yang selalu terbayangkan. Beatriz terharu melihat Ibu Noi yang menangis haru saat membaca karya anaknya itu.

            Dan tak terbayangkan pula, minggu-minggu terakhir ini banyak waktu yangTriz habiskan dengan Fabian. Meski itu hanya di Kelas Belajar. Dalam perjalanan pulang ucapan Fabian membuatnya tercekat.

            “Maaf, selama ini aku salah menilaimu.” Katanya menatap Beatriz yang sibuk menghitung langkah kaki dalam hati. Triz sontak menoleh, tersenyum sembari menggelang.

            “Kau gadis yang baik, tulus dan peduli terhadap orang lain,” mendengarnya, membuat Triz terbatuk-batuk.“Ide bagus ini berawal dari mana?” lanjut Fabian tersenyum indah.

             Beatriz jadi ingat percakapannya dengan Janny dulu saat gadis itu menghampirinya dengan kostum cheerleaders. Waktu itu Janny mengatakan bahwa Beatriz adalah bintang fashion show sekolah yang mulai meredup. Janny memamerkan posisinya sebagai kapten cheerleaders sekolah yang eksis. Tentu saja perkataan Janny hanya membuat hatinya panas.

            “Wow, benarkah Janny? Tapi meneriaki cowok pemain basket bukan tipe-ku. Justru mereka yang berteriak memanggil namaku.” Dan jawaban itu tak memuaskannya saat Janny berubah menantangnya. Masih ia ingat saat Janny menghujam matanya.

            “Kau bisa lebih unggul dari ini?” Sederet kalimat itu ampuh membuat Beatriz uring-uringan.
Hingga Luna datang memberikan ide yang ia dapat dari majalah. Isinya sederhana saja, tentang seorang gadis yang eksis karena kepedulian sosialnya yang membuat banyak orang terpana, terkenal? Tentu saja. Itu sebabnya Beatriz meminta Ayah agar bekas toko kue itu dijadikan kelas belajar saja. Sejak itu, ia sibuk membagikan brosur tentang kelas gratisnya untuk anak-anak. Lalu menyusun berbagai trategi.

            Namun, kini ada yang ia sadari. Arti yang terselip dalam namanya telah menjawabnya. Bukan dengan mengalahkan Janny kebahagiaan itu akan terwujud, melainkan mencoba membuat orang di sekitarnya bahagia adalah kebahagiaan itu sendiri. Pelukaan Noi adalah jawabanya saat ia berterimakasih. Itu masih membekas.

            “Entahlah,” jawabnya tertunduk.

            “Aku tak mudah kagum terhadap seseorang tapi sekarang aku sadar aku telah mengagumimu.” Seharusnya ia terlonjak senang, namun Beatriz hanya bisa tersenyum kaku saat Fabian menatapnya. Ada hal yang ia pikirkan.

            Tiba-tiba ponsel Beatriz berdenting. Ada pesan dari Luna.

            Keren kau Triz, video yang kau unggah di you tube tentang Kelas Belajar berhasil menarik perhatian seantero sekolah. Metamorvosa belajar Noi si Dislexia yang kau unggah di instagram juga mencapai ribuan ‘like’. Kau idola baru mereka, kau berhasil Triz, sekarang kau lebih eksis dari pada si jutek Janny itu.

            Beatriz hanya bisa meremas ponselnya cemas. Hanya Fabian yang bertanya-tanya atas perubahan raut Beatriz waktu itu. Tulus? Baik? Peduli? Ia terus mengulang tanggapan Fabian tentangnya. Bagaimana seandainya Fabian tahu jika tujuannya selama ini hanyalah popularitas? Semua ini adalah jawaban dari tantangan Janny terhadapnya. Ia mengelak. Ini bukanlah kebahagiaan sebenarnya yang ia cari. 
***


November 18, 2017

By: Amina Sy 

Catatan:  Cerpen ini terkirim ke GoGirl tanpa banyak kuedit. Kadung terkirim, berharap editor GoGirl ngedit typo-typo-nya. Sayang, saat penayangan benar-benar bebas editan.
Benar kata Mbak Yulin, Penulis yang seharusnya sayang pada naskahnya sendiri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Album Kenangan~ Cerpen Majalah Gadis

“Jangan bicara padaku tentang kenangan,” aku berkata.                         “Kenapa?” Alisnya bertaut. Masa suram itu kembali menamparku. Bayangan Mama yang tengah kalap memenuhi kepala.             “Karena aku tidak suka membahas kenangan, itu sudah usai. Tak perlu diingat.” Ia mengangguk mengerti, tersenyum. Lantas membidikku dengan sekali kedipan kamera polaroidnya. Aku hanya bisa menganga, selembar kertas foto muncul dengan otomatis. Tanganku bergetar, lintasan kenangan menganga lebar di kepala. Ingatan tentang foto-foto dalam album itu terasa mencekikku. Raut Nathan bertanya-tanya ketika aku bergegas menghindar.

Cerpen Nur Hidayah: Ingatan Tentang Bapak

Tangan Rea terulur mengusap headline sebuah surat kabar. Mulutnya sedikit ternganga. Tertulis di lembaran kesekian tentang seorang lelaki yang keluar dari jeruji besi setelah beberapa tahun di bui. Semuanya sudah terlewati . Ia bergumam lirih.

Melamun ~ Percikan di Majalah Gadis

Yang sedang melamun di bangku paling ujung itu namanya Mala. Hampir setiap hari aku melihatnya melamun. Entah apa yang selalu dipikirkannya.  Seringkali guru memergokinya melamun saat jam pelajaran berlangsung, akibatnya Mala kerap mendapatkan hukuman. Aku perhatikan pandangannya tertuju pada papan tulis. Tertera sejumlah soal yang diberikan Bu Endang, guru fisika kami. Tapi Mala bukan menatap soal-soal itu, tatapanya jauh menerawang entah kemana.